5 Alasan Seorang Wanita Mendukung Adanya Poligami

Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak tabu dalam menerapkan sistem poligami. Meskipun terbilang lumayan menyakitkan, namun kenyataannya poligami banyak dilakukan oleh masyarakat.

Sebenarnya tidak ada seorang wanita di dunia ini yang rela bila dimadu. Namun ada beberapa alasan yang membuat seorang wanita mendukung dengan adanya poligami. Poligami terlihat lumayan ekstrim untuk dilakukan, tetapi ini masih dinilai memberikan nilai positif bagi kehidupan.

Merangkum dari Abu Fairuz, lima alasan mengapa seorang wanita mendukung adanya poligami. Berikut penjelasannya.

  1. Menghindari maksiat

“Manusia takkan pernah puas”, mungkin kata pepatah tersebut adalah hal yang tepat dalam kasus ini. Konsep monogami dinilai akan membuka pintu maksiat dan juga pelampiasan syahwat yang akhirnya berujung haram.

Hal ini terbukti dengan merebaknya kasus perzinahan, aborsi dan perselingkuhan. Alhasil poligami dinilai sebagai solusi yang tepat dalam mengatasi hal tersebut.

  1. Meringankan tugas mengurus suami

Kebutuhan lahir dan batin sangat diperlukan bagi manusia. Salah satu yang menjadi alasan wanita mendukung adanya poligami yaitu untuk meringankan tugas mereka dalam mengurus suami dan melayaninya dalam kebutuhan lahir dan batin.

  1. Keyakinan akan berlimpah rezeki

“Banyak anak banyak rezeki” kalimat ini sudah sangat sering terlontar dari mulut seseorang. Alasan inilah yang digunakan dari sebagian wanita dalam mendukung adanya poligami. Semakin banyak madu-madunya dan anak dari suaminya, maka rezeki pun diturunkan akan semakin berlimpah.

  1. Dianggap dapat mengurangi masalah

Beberapa wanita juga menganggap poligami bukanlah suatu hal masalah. Justru masalah rumah tangga keluarga yang monogami dinilai lebih banyak dibandingkan orang yang berpoligami. Hal ini yang akan memantapkan mereka dalam memberikan izin untuk berpoligami.

  1. Keyakinan bisa bersikap adil dan tidak zalim

Sebagian wanita merasa yakin karena dengan berpoligami, sang suami masih dapat bersikap adil dan tidak zalim. Oleh karena itu, mereka membebaskan sang suami untuk melakukan poligami dengan catatan harus adil terhadap setiap istri-istrinya.