Proses dan Metamorfosis tidak sempurna capung

Metamorfosis tidak sempurna capung

Proses dan Metamorfosis tidak sempurna capung – Capung adalah kelompok serangga yang masuk kedalam ordo Odonata. Belum tau apa itu odonata ? Odonata merupakan salah satu ordo pada serangga yang sejak awal berbeda dalam penentuannya dari ordo serangga lain.

Jika orde serangga yang lain bisa di golongkan berdasarkan pada sayapnya, berbeda dengan odonata yang digolongkan berdasarkan giginya.

Jenis serangga ini biasanya selalu ditemui didekat air dan tak jauh dari air. Mengapa ? Karena air merupakan tempat dimana mereka bertelur dan menghabiskan masa pra-dewasa anak anaknya atau keturunannya.

Dalam bahasa daerah capung memiliki nama yang berbeda beda. Papatong merupakan nama capung dari sunda, kinjeng dari jawa, coblang juga dari jawa dan kasasiur serta tjapung.

Capung adalah salah satu contoh hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna (hemimetabolisme) dalam siklus hidupnya. Metamorfosis capung dibilang  termasuk kedalam metamorfosis tidak sempurna karena ia tidak mengalami fase pupa.

Seperti metamorfosis yang terjadi pada belalang, metamorfosis capung juga hanya melalui 3 fase saja, masing-masing yaitu fase telur, fase nimfa, dan fase imago.

Nah, pada artikel kali ini kita akan membahas fase-fase dalam proses metamorfosis capung tersebut secara lengkap mulai dari skema, urutan, lamanya proses, hingga gambar ilustrasinya. Silakan disimak untuk menambah wawasan biologi Anda.

Metamorfosis Capung

Seperti sudah dijelaskan di atas, metamorfosis capung melewati 3 fase saja dengan urutan fase telur, fase nimfa, dan fase imago. Secara sederhana, proses metamorfosis capung tersebut dapat diilustrasikan pada gambar di bawah ini!

  1. Fase Telur

Proses metamorfosis capung diawali dengan fase telur. Telur capung dihasilkan dari proses perkawinan antara induk capung jantan dan induk capung betina.

Sepasang induk capung umumnya melakukan perkawinan di udara. Jika Anda pernah melihat ada 2 ekor capung yang terbang secara berdempetan, pada saat itulah proses perkawinan terjadi.

Setelah sel telur betina terbuahi oleh spermatozoa capung jantan, telur yang dikandung betina kemudian akan diletakan di sekitar wilayah perairan.

Yang paling sering ditemukan, induk betina meletakan telurnya di daun-daunan tumbuhan air seperti eceng gondok, padi, dan rerumputan di tepi sungai.

Peletakan telur yang ditaruh pada daerah yang dekat dengan air bukannya tanpa sebab. Saat telur nantinya menetas, nimfa yang keluar dari cangkang telur capung tersebut hanya akan hidup jika berada di daerah perairan.

Dalam sekali bertelur, induk betina capung bisa menghasilkan telur hingga 100.000 butir telur. Akan tetapi, dari jumlah itu yang benar-benar bisa menetas biasanya tidak akan lebih dari 80%nya saja. Semua telur yang dihasilkan oleh capung betina biasanya akan diselimuti oleh lendir-lendir licin.

Lamanya fase telur pada proses metamorfosis capung berlangsung sekitar 2 sd 7 hari. Jika di musim dingin atau musim hujan, fase telur tersebut bisa berlangsung lebih lama lagi.

  1. Fase Nimfa

Setelah telur capung menetas, nimfa keluar dari cangkang telur untuk kemudian masuk ke dalam dasar perairan yang dangkal. Nimfa capung tergolong karnivora yang sangat ganas. Ia memakan semua mikroorganisme perairan seperti ganggang, berudu (larva katak), anak ikan, dan mempredasi temannya sendiri. Untuk bisa bertahan hidup di air, nimfa capung bernapas dengan menggunakan insang yang terdapat pada ujung perutnya.

Di dalam perairan, nimfa terus tumbuh dan berkembang. Ia mengalami ganti kulit (ekdisis)  8  sampai 12 kali dengan tiap tahapan yang disebut instar.

Dalam proses metamorfosis capung, fase nimfa adalah fase yang menghabiskan waktu paling banyak. Fase nimfa bisa menghabiskan waktu antara 4 minggu sd 4 tahun. Lamanya fase nimfa sangat dipengaruhi oleh spesies dan lingkungan tempat hidupnya.

  1. Fase Imago (Capung Dewasa)

Setelah melewati fase nimfa yang panjang, metamorfosis capung dilanjutkan dengan fase imago. Nimfa capung yang sebelumnya berada di dasar perairan secara perlahan akan merayap keluar melalui ranting dedaunan tumbuhan air. Imago keluar dengan cara melepaskan kulit terakhirnya dari nimfa yang disebut exuvia. Pada fase peralihan dari nimfa kepada imago ini, kondisi capung masih sangat lemah. Ia sangat rawan dimangsa oleh para burung, ikan, dan hewan insektivora lainnya.

Pada awal fase imago, capung sudah memiliki sayap 2 pasang, toraks, dan abdomen sama seperti capung dewasa. Hanya saja tubuhnya masih sangat lunak. Ia juga sudah bisa terbang dan mencari mangsa kesana kemari. Ia akan tumbuh menjadi capung dewasa dan menghabiskan usianya yang hanya berlangsung selama kurun waktu 2 sd 4 bulan.

Ia akan kembali bereproduksi, kawin dengan pasangannya dan kembali meletakan telur-telur capung baru di dedaunan untuk melanjutkan proses metorfosis selanjutnya.

Nah, itulah uraian tentang proses metamorfosis capung dan penjelasannya. Dari penjelasan diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa metamorfosis capung termasuk jenis metamorfosis yang tidak sempurna karena tidak melalui tahapan atau fase pupa. Semoga bermanfaat!

Sumber : Dosenternak.com